Love is a Marathon

fraulein_ira | Crap-Bag | Thursday 20 June 2013 4:39 pm

This is a story about us… a long distance relationship in the true meaning of it.. Love, is an ultramarathon journey..

Suatu ketika di pertengahan Tahun 2006, dalam rangka membuat suatu project website bersama, saya diperkenalkan oleh seorang rekan kuliah, Didi, melalui komunitas Blogger, kepada seseorang yang selama ini menjadi sahabat terdekat saya, Nyoman, seorang programmer yang tinggal di Singapura. Dalam project tersebut, Nyoman bagian merancang dan memprogram coding untuk website, saya bantu mengisi konten. Berbeda dengan saya yang pembawaannya ceria dan banyak bicara, Nyoman seorang pendiam dan terlihat geek. Kata seorang teman, “dia dapat mengetik kode bahasa pemrograman lebih cepat daripada kita mengetik di MS Word”. Haha. Suatu keunikan diawal perkenalan, mengingat kalimat pertama yang dia tanyakan melalui Y!messenger untuk memastikan bahwa saya seorang berlatarbelakang pendidikan kimia adalah “Coba sebutkan basa-basa DNA!”. Saya, yang kebetulan sedang riset tugas akhir tentang biokimia molekular, tentu dengan penuh keheranan namun pasti, menjawab “Guanine, Cytosine, Adenine dan Thymine!”. Ternyata, saya baru tahu 3 tahun kemudian kalau Nyoman saat itu juga sedang mengerjakan project bioinformatika DNA-sequencing sebagai tugas akhir kuliahnya. Suatu kebetulan yang aneh. Life begins with DNA, and so does our relationship.

Kepada Nyoman-lah tempat saya curhat segala sesuatu dalam hidup saya. Nyoman seorang keturunan Bali, namun sudah 13 tahun terakhir tinggal di Singapura, sedangkan saya keturunan Medan-Jawa yang tinggal dan besar di Jakarta. Curhat jarak jauh yang intensif melalui media sosial dan aplikasi chat serta telpon SLI menjadikan kami lebih dekat, dan memutuskan untuk menjadi kekasih 3 tahun kemudian. Hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship, LDR) yang cukup berat untuk dijalani, karena selain jarak beda negara dan beda zona waktu yang memisahkan kita, juga perbedaan utama diantara kita, budaya dan agama.

***

Sejak tahun 2008-2009, Nyoman mulai aktif di dunia lari. Berbagai ajang lomba lari telah diikuti di Singapura, baik lomba di aspal maupun di trail yang penuh batuan dan gunung. Mulai dari yang jarak menengah, 25 Km, 42 Km (marathon) hingga jarak terjauh 100 Km dan 160 Km (ultra-marathon). Pada awalnya, saya kurang mendukung hobinya di dunia lari jarak jauh. Karena, untuk mengikuti lomba lari jarak jauh, apalagi ultra-marathon, membutuhkan latihan yang intensif, berjam-jam lari berpuluh-puluh kilometer. Setiap pulang kerja dan akhir pekan, kegiatan Nyoman banyak diisi dengan latihan lari dan cross-training seperti renang, yoga, dan latihan di gym. Yang artinya, secara tidak langsung mengurangi waktu intensitas komunikasi kita. Yang dulunya bisa curhat berjam-jam, pelan-pelan berkurang. Menjalani LDR tentu tidak mudah, butuh komitmen yang kuat, saling pengertian dan komunikasi yang baik. Meskipun komunikasi lebih sedikit, namun berkualitas. Awalnya sih terasa sangat berat, namun kami mencoba untuk mencari jalan keluar bagaimana supaya saya bisa terlibat dalam aktivitas larinya.

Sebenarnya, lari bukanlah kegiatan baru dalam hidup saya. Dulu, saya aktif dalam olahraga lari sewaktu SD hingga SMA, seringkali ikut lomba lari yang diadakan oleh sekolah atau ikut mewakili sekolah, baik jarak sprint 100 m, hingga jarak paling jauh 2,4 Km. Kadang-kadang, mendapat peringkat 1-3. Namun semenjak memasuki dunia perkuliahan, kesibukan mengikuti jadwal kuliah yang padat dan praktikum di laboratorium menyebabkan saya terlalu lelah dan tidak punya waktu untuk lari. Apalagi pada periode waktu tersebut, lari bukanlah aktivitas yang populer di tengah masyarakat, tidak banyak teman yang bisa diajak lari bersama. Begitupun setelah memasuki dunia kerja, aktivitas saya paling banyak ialah jalan-jalan ke berbagai kota di seluruh nusantara untuk kegiatan riset. Benar-benar membuat lupa sama hobi lari saya. Hingga suatu saat di tahun 2004, saya mengalami kecelakaan tertabrak angkutan umum hingga tulang ekor mengalami sedikit cedera. Sejak saat itu, aktivitas gerak saya berkurang, karena jika bergerak melakukan aktivitas yang cukup berat, seperti membungkuk, berlari atau melompat, saya mudah mengalami nyeri pada tulang belakang (bagian lumbar) saya.

Pertengahan tahun 2010, saya mulai mencoba lari kembali, setelah 15 tahun berhenti berlari. Awal pertama mencoba lari sejauh 5 Km, yang saya rasakan ialah rasa senang bisa kembali lagi ke dunia lari. Endorfin yang diproduksi oleh tubuh setelah lari, rasanya sangat luar biasa menyenangkan. Dua tiga kali bisa lari lagi sejauh 5 Km rasanya senang, meskipun amat sangat lambat kayak siput. Iseng-iseng, saya tertarik mendaftar lomba Race Against Cancer kategori 5K di Jakarta Tahun 2010, karena bersifat amal. Lomba lari ini merupakan lomba lari saya pertama saya berdua Nyoman, walaupun hampir seluruh rute, saya lebih banyak jalan daripada larinya, tapi buat saya yang penting finish. Namun, setelah 2-3 kali lari kemudian, cedera tulang ekor saya kembali kambuh. Rasa nyeri yang hebat di area pinggul selalu terasa setiap abis lari. Rupanya, tubuh saya belum kuat untuk bisa sering-sering lari. Akibatnya, saya harus berhenti lari. Nyoman pun menyarankan agar saya menjalani terapi demi pulihnya kembali tulang punggung saya. Hasil rontgen memperlihatkan cedera yang cukup serius pada lumbar L4-L5 saya. Segala terapi telah saya coba, mulai dari pijat tradisional, fisioterapi, dan chiropractic, dan mengkonsumsi suplemen mengandung glukosamin untuk meningkatkan fleksibilitas persendian atas saran ahli medis.

Sementara menjalani terapi, karena saya tidak bisa lari akibat cedera tulang belakang saya, maka saya mencoba menunjukkan dukungan saya kepada aktivitas larinya dengan menjadi fotografernya ketika dia mengikuti lomba lari. Saat dia mengikuti lomba Standard Chartered Half Marathon Tahun 2011 di Jakarta, itulah pertama kalinya saya menunggui dia di garis finish dengan kamera. Pelan-pelan, dukungan saya terhadap hobinya itu bertambah.

A marathon and a proposal.

Seiring berjalannya waktu, datanglah kabar yang menggembirakan. Setelah sekian tahun tidak ada lomba lari Marathon 42,195 Km di Indonesia, menjelang akhir tahun 2011, kami membaca pengumuman akan diselenggarakan lomba BII Maybank Bali Marathon (BMBM), pada 22 April 2012, tepatnya di Gianyar, Bali. Mendengar hal ini, antusias Nyoman untuk mengikuti ajang marathon ini sangatlah besar, disamping ini lomba marathon pertamanya di Indonesia dan diadakan di kampung halaman tercinta, sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan saya ke seluruh keluarga besarnya. Feeling excited, sekaligus deg-deg-an, karena senang akan berjumpa dengan keluarga besarnya dan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi, apakah keluarganya akan menerima saya atau tidak.

Pada bulan Februari 2012, Nyoman mengikuti Vibram Hongkong Ultra-Marathon 100 Km diikuti dengan Twilight Ultra Challenge bulan Maret 2012. Setelahnya, lututnya mengalami cedera. Akibatnya, selama waktu tersebut latihan persiapan mengikuti Bali Marathon juga berkurang. Sempat ada keraguan dalam hati Nyoman untuk mengikuti Bali Marathon, apakah sanggup atau tidak. Namun, semangat untuk mengikuti lomba sangat besar, dan akhirnya memutuskan untuk tetap ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut.

Sehari sebelum lomba Bali Marathon, saya menemani Nyoman mengambil perlengkapan lomba (racepack) di area Nusa Dua, Bali. Kami bertemu beberapa rekan yang mengikuti lomba dari Jakarta, Bali, Malaysia, Singapura. Juga bertemu race director-nya yang baik hati, Barbara, serta race organizer dari BII Maybank, Mas Satyo. Saya masih ingat kata-kata Mas Satyo hari itu, “Hey, Bli Nyoman bentar lagi terkenal lho”. Hahaha, aku hanya tertawa.. :P. Hari itu, Nyoman didatangi dan diwawancara oleh dua orang kameramen kru yang meliput lomba Bali Marathon. Yang terpikir oleh saya adalah “Oh.. mungkin dia di-interview karena dia jauh-jauh datang dari Singapura untuk berlomba di kampung halamannya”. That’s all.
Hari Minggu, tanggal 22 April 2012. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kami datang ke arena lomba pada pukul 03.00 dini hari. Suasana sangat meriah, kami bertemu dengan lebih banyak teman-teman, termasuk salah seorang sahabat Nyoman dari Singapura, Agus Kusmuljadi. Adrenalin terpompa mengikuti suasana pagi itu. I feel excited. Kamera sudah saya siapkan dengan baterai terisi penuh, dan mulai mengambil momen ceria di sana-sini. Klik-klik-klik. Lomba kategori marathon dimulai pukul 05.00 pagi. Mengingat lututnya yang masih cedera, saya katakan pada Nyoman, “Just listen to your body. Lari lambat pun tidak apa-apa. Kalau tidak kuat, berhenti saja. Good luck!” Saya tersenyum, kemudian kami berpisah. Saya menunggu di area garis finish mengabadikan momen-momen yang terjadi.

Jam menunjukkan pukul 10.45 pagi. Sudah hampir 6 jam lomba berlangsung. Sebelumnya, Nyoman biasa finish marathon antara 4-5 jam. Saya mulai khawatir dan menanti cemas di finish line. Setiap ada mobil ambulans datang, saya langsung melongok ke dalam mobil sambil crossing my fingers, apakah ada seorang pria di dalamnya menggunakan udeng, ikat kepala khas Bali. Setiap kali tidak ada tanda-tanda Nyoman di dalam ambulans, saya menarik nafas lega. Dan melanjutkan foto-foto momen finish para peserta lomba.

Pukul 11.15, diantara rasa kepanasan dan kelelahan akibat menunggu di garis finish selama 6 jam lebih, tiba-tiba MC memanggil dari panggung, “Apakah ada keluarga atau kerabat I Nyoman Suka Ada disini?”. Saya tersentak, dan langsung melompat dari duduk dan menghampiri MC. “Iya, saya, Mbak. Kenapa Mbak? Ada apa Mbak? Apakah dia cedera?” tanya saya dengan cemas. Mbak MC menjawab, “Oh, enggak, hanya mau memberi tahu, sebentar lagi dia mau finish”. Saya sempat heran, setengah nggak percaya, namun lega. Saya langsung bersiap-siap di area 50 meter menjelang finish dengan kamera saya. Tampak dia lari dari jauh (+/- 200 meter dari finish line) membawa sebuah banner, ditemani Agus Kus, sahabatnya dan dikawal salah satu panitia BMBM2012 bersepeda, Timo serta diikuti kameramen. Yang saya bayangkan, tulisan di poster tersebut ialah, “Saya, Nyoman, berlari mewakili Bali, menyelesaikan Full Marathon 42,195 Km di BII Maybank Bali Marathon 2012”. Hahaha, sungguh pikiran yang aneh saat itu. Kemudian, tiba-tiba salah seorang Race Marshall berteriak dari jauh, “Mbak, kalau mau foto-foto jangan disitu, di belakang finish line aja.”. Oh, ok, saya kemudian berlari kecil ke arah garish finish. Saya kembali melanjutkan foto-foto, sampai akhirnya Nyoman dan Agus melewati garis finish. “But.. Oh, wait. What’s that..?” tanyaku dalam hati. Saya melihat banner yang dibawa Nyoman. Ternyata, banner tersebut bertuliskan “Neera, will you marry me?”, dan selanjutnya dia berlutut dan mengeluarkan sebuah cincin berlian mungil. Saya merasa kaget, syok, kemudian memandang dia yang sedang berlutut serta pemandangan sekitar. Orang-orang dari panitia lomba, peserta lomba, kameramen.. begitu banyak pasang mata yang mengerubungi kita. I’m totally speechless. Dia berkata, “It’s been a wonderful 7 years of friendship.. etc.. etc..” yang sisanya saya tidak begitu ingat karena serangan panik, hehehe.. Kemudian, tiba-tiba semua yang menonton berteriak “YES! YES! YES!” dan ketika MC menyodorkan mikrofon kepada saya, saya hanya bisa mengangguk pelan. Semua berteriak senang, riuh ramai, cincin dipasang di jari manis saya, dan kami berpelukan.

Bali Marathon 2012 - A Marathon and A Proposal

Bali Marathon 2012 - A Marathon and A Proposal

Saya sungguh terharu, sampai nggak bisa berkata apa-apa. It was really a wonderful feeling inside. Ternyata, kejadian tersebut disiarkan langsung oleh salah satu saluran TV swasta. Dan seketika itu pula beritanya sampai ke Jakarta rumah saya, dan rumah Nyoman di Bali. Semua bergembira, dan seketika itu pula restu diperoleh dari semua pihak. Ternyata, kameramen yang mengikuti Nyoman dari hari H-1 itu mendokumentasikan seluruh perjalanan Nyoman sepanjang 42,195 Km dan lamaran tersebut untuk sebuah film dokumenter tentang beberapa pelari berjudul “Pushing the Limit”. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan mengalami suatu peristiwa dalam hidup seperti ini, seolah sinetron yang saya lihat hanya ada di TV. Kejadian ini juga membawa berkah banyak dalam hidup saya, karena sejak saat itu saya makin banyak memiliki rekan pelari yang juga teman-teman Nyoman, terutama dari komunitas Indo Runners.

***

A comeback to running life.

Gara-gara lamaran di Bali Marathon 2012 tersebut, hati saya luluh seketika terhadap aktivitas lari Nyoman. I can’t be mad at his running activities anymore. Dukungan saya pada Nyoman kini 100%, saya mulai terpikir untuk kembali menekuni kegiatan lari jarak jauh dan bertekad harus kembali ke Bali Tahun 2013, namun kali ini saya bukanlah orang dibelakang kamera, tetapi untuk berlari marathon bersama seseorang yang spesial dalam hidup saya, Nyoman. Karena itu, mulailah saya kembali latihan lari. Pada awalnya, saya kembali mulai mencoba lari 5 Km, pinggul saya terasa nyeri, jalan menjadi agak susah. Namun, Nyoman terus menyemangati saya, dan menyarankan untuk terus kembali menjalani terapi agar kondisi tulang punggung saya pulih. Nyoman pun sering memberikan saran dan petunjuk latihan gerakan untuk yoga, stretching otot-otot kaki, serta saran untuk mengubah pola makan saya yang buruk: makan tak teratur dan makanan banyak lemak, gula dan makanan siap saji. Pelan-pelan semua Saya coba jalani satu-persatu. Sangat sulit pada awalnya, hingga saya hampir merasa frustasi. Apalagi mengubah kebiasaan makan sehat, merupakan satu hal yang sangat susah dijalani. Dukungan tak henti-hentinya dari Nyoman, tidak pernah bosan untuk selalu mengingatkan saya untuk hidup sehat demi masa depan bersama. Perlahan kondisi cedera tulang punggung membaik. Saya mulai bisa bertahan lari dengan cedera ringan, tidak separah dulu. Meskipun lambat, namun saya senang bisa mencapai finish. Sampai akhir tahun 2012, saya sempat mengikuti beberapa lomba lari 5 K dan 10 K, terutama hanya untuk lomba lari yang sifatnya fun run atau untuk kepentingan amal.

Awal Tahun 2013, kami membaca pengumuman BII Maybank Bali Marathon kembali akan digelar bulan Juni 2013. Semua kenangan tentang BMBM 2012 tiba-tiba terlintas di depan mata. Feeling excited once again, kali ini saya berniat untuk mendapatkan medali lomba lari pertama saya di Bali Marathon 2013 bersama Nyoman, berharap lomba Bali Marathon kembali menjadi catatan penting dalam hidup saya. Pada awalnya kami mendaftar untuk kategori Full Marathon dengan pertimbangan masih ada sisa waktu 6 (enam) bulan untuk latihan. Namun, cedera tulang belakang saya yang bolak-balik kambuh menyebabkan latihan reguler sulit dilakukan. Aktivitas lari terjauh saya hanya lari trail sejauh 11 Km di lintasan alam MacRitchie, Singapura. Itupun tidak rutin, sangat jauh dari target. Akhirnya satu bulan menjelang lomba, kami memutuskan untuk men-downgrade kategori lari menjadi Half-Marathon 21 Km. Selama satu bulan penuh, bukannya lari jarak jauh, saya malah hanya lari-lari jarak pendek dan mencoba mengintensifkan yoga untuk memperkuat otot-otot kaki dan mencegah cedera saat lomba lari. Begitu banyak lomba lari sepanjang bulan Mei 2013 yang sangat menggoda saya untuk ikut berpartisipasi, namun saya memilih menghindari risiko cedera akibat lomba lari. Jadi, saya hanya berdoa dan menyilangkan jari tangan, tidak berharap apapun saat lomba Bali Marathon nanti selain finish bersama dan menikmati perjalanan sepanjang lomba lari, berapapun catatan waktunya.

Hari Minggu tanggal 16 Juni 2013. Hari-H akhirnya datang juga. Udara dingin karena hujan turun deras semalam. Jauh lebih beruntung kali ini daripada BMBM 2013 yang katanya panas terik sepanjang hari. Saya mencoba untuk tenang ketika lomba dimulai, karena saya lari dengan Nyoman disamping saya. Kami mempersiapkan strategi 5 menit berlari, 1 menit jalan. Pada awalnya, kami berlari perlahan. Semua berjalan baik-baik saja.. hingga kita mencapai tanjakan setelah Km 6. Otot paha belakang saya terasa ketarik saat mencapai Km 7, dan rasa nyeri tersebut bertahan sepanjang lomba. Setelah ini, seluruh strategi 5-menit-1-menit pun berantakan. Pada kilometer ketujuh ini, kami bertemu dengan rekan-rekan sesama pelari kategori half-marathon yang akhirnya terus bersama kita sepanjang jalan, bersama menikmati hal-hal yang kita temui sepanjang lomba. Bahkan, kami turut menyaksikan betapa kencangnya para pelari Kenya –dari kategori full marathon– ketika mereka melewati kami di Km 7 ini. Man, they were very fast!

BMBM2013 - Sunrise and Paddy Fields

Pada Km 10, saya mengalami lecet pada telapak kaki dan nyeri di pergelangan kaki kiri. Duh, rasanya sungguh sakit sekali. Atas saran Nyoman, saya mencoba meregangkan otot kaki dan paha beberapa menit dengan menyandarkan telapak kaki pada tiang listrik dan meluruskan otot betis dan paha, kemudian membuat gerakan seolah menarik badan mendekati tiang listrik. Ternyata lumayan juga menghilangkan nyeri sesaat, hehe. Kemudian kami melanjutkan lari. Saya merasa sungguh kaki sungguh sakit dan lelah, namun hati merasa sangat senang. Cuaca cerah dan sejuk sangat mendukung perjalanan kami kali ini.

BMBM2013

Pada Km 14, Nyoman berhenti pada salah satu warung dipinggir jalan untuk membelikan kami air kelapa, sementara kami terus melanjutkan perjalanan. Ternyata, setelah belokan jalan beberapa meter di depan, kami melihat ada posko persediaan air, isotonik dan buah serta tim medis. Sambil menunggu Nyoman, kami bertiga beristirahat sebentar sambil makan pisang. Setelah Nyoman berhasil menyusul, kami berempat melanjutkan perjalanan dengan kaki yang sukar diajak untuk lari. Tak lama kemudian, kami bertemu salah satu kru kameramen lomba, yang mengambil beberapa foto kami sepanjang perjalanan. Setiap kami melihat kameramen tersebut beberapa meter di depan, kami berusaha senyum riang, seolah-olah tidak merasakan kaki yang sakit dan lelah, hehe.. Namun, kami benar-benar menikmati lomba lari ini. Kami sangat senang bertemu para penduduk yang duduk di pinggir jalan di depan rumah masing-masing menyambut kami berlari sepanjang jalan, juga para siswa-siswi sekolah dasar yang menyambut kami peserta Bali Marathon di beberapa lokasi sepanjang perjalanan, serta beberapa pertunjukan hiburan yang dipersiapkan panitia di beberapa titik, yakni tarian bali seperti kecak, pendet, juga ada budaya tradisional Bali, barong dan ogoh-ogoh. Bahkan, kami pun senang melihat anjing-anjing menggonggong sepanjang jalan, haha.

BMBM2013 at Patung Hanoman Km 16

Masih teringat jelas ketika kami mencapai satu jalan sebelum Km 15, dimana terdapat siswa-siswi sekolah dasar menyambut kami penuh kemeriahan dan ramah-tamah. Setelah baru saja merasa senang dan semangat terpompa melihat lucunya wajah anak-anak tersebut berteriak kepada kami “Go Run! Go Run!” dan mengulurkan tangan untuk memberikan Hi-Five kepada kami, di ujung jalan tersebut terdapat sebuah belokan ke kiri, yang ternyata -Oh My God!, sebuah tanjakan yang cukup tinggi menyambut kami, membuat kaki rasanya ingin menangis. Namun, hal tersebut tidak membuat saya ingin mengakhiri perjalanan. “DIE DIE MUST FINISH!”, itulah mantra yang terus berkelana di dalam kepala sepanjang jalan.

Ketika akhirnya sampai Km 19, matahari mulai menampakkan sinarnya. Seketika udara terasa sangat panas menyengat, kulit lengan dan leher terasa kebakar, karena saya lupa memakai losion pelindung anti sinar-UV sebelum lomba. Semangat dan rasa tak sabar untuk segera sampai ke garis finish terus berkibar. Jadi, selama 3 kilometer terakhir, kami mencoba berlari – jalan cepat – lari – jalan cepat..

Duhhh…
My legs hurts…
My ankle hurts..
My hamstring hurts..
It’s damn hot..

Tinggal 500 meter lagi.. kami coba terus berlari, kecepatan mulai ditingkatkan. Kira-kira 200 meter lagi, saya hampir bisa melihat garis finish dengan jelas. Saya dan Nyoman saling bertatapan, kemudian bergandengan tangan, mendekati garis finish, kami melihat banyak rekan didepan mata, bersorak-sorai menyemangati kami. “Is that finish line, already?” tanyaku kepada Nyoman. Tiba-tiba saya ingin menangis. Namun, melihat wajah teman-teman yang ceria membuat saya merasa bahagia. Saya benar-benar ingin menangis. Namun saya sangat-sangat bahagia.

Akhirnya, saya menyelesaikan half-marathon saya bersama Nyoman, dalam waktu 4 jam 05 menit. Sungguh bukan catatan waktu half-marathon yang baik, kami berada di kelompok pelari half-marathon paling akhir, namun saya tidak perduli. Sepanjang perjalanan dua puluh satu kilometer kali ini benar-benar terasa menyenangkan, banyak pengalaman yang mendebarkan dan menyentuh hati. Saya akan dengan senang hati kembali ke Bali Marathon tahun depan untuk merasakan seluruh rasa suka-duka, rasa senang bahkan rasa nyeri yang dialami sepanjang jalan, hehe. Namun, saya berharap kedepannya bisa mempersiapkan diri lebih matang.

Bali Marathon 2013

Bali Marathon 2013. Photo courtesy: Stevens Onsoe

I feel so blessed to experience this whole long distance relationship with Nyoman. Long Distance Relationship kami tidaklah hanya sebatas Jakarta-Singapura, namun dalam arti yang sebenarnya, lari bersama sejauh berpuluh-puluh kilometer, suatu pengalaman yang saya harap dapat dilakukan terus bersama Nyoman. Hopefully someday, an ultra-marathon together.

NN MacRitchie

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment